Martina Felesia

"Apapun pendapat miringmu tentang negara ini, simpan saja untukmu hari ini. Dirgahayu Negeriku Tercinta! Semoga Lekas Sembuh!" (Kwinta Masalit, 17.08.08 07.16am)"Mari Bung, rebut kembali!" (Lini, 17.08.08 07.20am)

Kalimat di atas adalah cuplikan email yang kuterima dari seorang teman pagi ini. Kalimat tersebut begitu menyentuh hatiku karena memang begitulah yang ada dan terjadi pada negeriku tercinta yang dipanggil Indonesia. Aku merasa bahwa apapun pandangan miring orang tentang Indonesia, aku selalu merasa bangga menjadi orang Indonesia. Meskipun dalam 63 tahun kata merdeka masih menjadi jargon tong kosong nyaring bunyinya, aku toh tetep cinta Indonesia.

Bisa jadi aku tak lagi mengenang kemerdekaan bangsaku dari penjajahan dengan mengikuti upacara bendera seperti waktu aku masih muda. Bisa jadi rasa nasionalismeku sudah banyak tergerus oleh situasi dan carut marut negeri ini dalam kurun waktu 37 tahun usiaku yang memupuk kekecewaan ketika menyaksikan negara ini tak juga belajar dari generasi ke generasi. Bisa jadi aku memang tak seidealis dulu lagi. Tapi paling tidak, aku masih menyimpan kenangan akan indahnya kekayaan bumi pertiwi dan keragaman yang dimiliki oleh negeri ini. Itulah yang membuatku bertahan dan menyimpan rasa cinta ini, untuk sebuah negeri yang suam2 kuku, yang hidup segan mati tak mau, yang merdeka tidak terjajahpun tidak.

Ketika anakku sulung bertanya kenapa dia harus pergi upacara bendera di sekolah, pas tanggal 17 Agustus, dengan bersemangat kujawab bahwa selain itu sudah tugas dari sekolah hari itu adalah HUT Indonesia. Jadi semua orang Indonesia boleh memperingatinya antara lain dengan upacara bendera. Kalau Bunda masih sekolah mungkin Bunda juga akan datang upacara bendera. Dan dengan bersemangat pula anakku pergi melangkahkan kaki ke sekolah untuk mengikuti upacara.

Aku melongok depan rumah. Tidak ada bendera merah putih yang berkibar seperti ketika masih tinggal di kampung. Tidak ada karnaval lucu2 yang mempertontonkan kerukunan di antara sesama anak bangsa. TV pun tidak menyiarkan acara yang special. Kebanyakan berisi acara gosip bertopengkan peringatan HUT RI oleh para artis yang kalau ditelusuri isinya sekedar omong kosong ngalor ngidul nggak karuan.

Sepertinya rasa nasionalismeku memang berkurang. Dan aku tidak seidealis dulu lagi. Tapi paling tidak masih bisa kukenang para pahlawan bangsa yang dulu buku Otobiografinya suka kubaca berkali-kali. Sukarno, Hatta, Soedirman, Pangeran Diponegoro, dll....dll....! Paling tidak aku masih bisa belajar bahwa sesungguhnya perjuangan butuh pengorbanan. Bahwa perjuangan mereka dulu tidak sia-sia. Bahwa akan selalu ada harapan di atas wajah negaraku yang buram.

Jadi, apapun kata orang tentang negaraku, tentang bangsaku, aku akan tetep cinta. Meskipun banyak hal yang tidak memerdekakan dalam pelaksanaanya, aku akan selalu cinta. Paling tidak aku masih punya kesempatan bagaimana memerdekakan diri sendiri. Paling tidak aku bisa belajar membagikan kemerdekaan itu untuk anak2ku, untuk suamiku, untuk keluargaku, untuk teman2ku. Kemerdekaan untuk tidak merasa diintimidasi, kemerdekaan untuk saling menyayangi dan menghargai, kemerdekaan untuk berpikir positif dan meraih kemenangan bukan dengan cara yang curang, kemerdekaan untuk bisa saling berbagi dan mengisi, kemerdekaan yang membuat orang lain merasa aman, nyaman dan gembira.

Apapun kata orang, ingin kukatakan,"Selamat Ulang Tahun Indonesiaku. Ingatlah selalu betapa aku cinta padamu!"

Label: edit post
0 Responses