Marmut Ireng
Tahun ini entah ide dari mana aku terpilih menjadi salah satu panitia Year End Function (acara akhir tahun) di kantor.  Biasanya sih aku selalu bisa kasih alasan untuk bisa menghindar karena bosku nggak mau aku ikut panitia2an seperti itu, yang bisanya kalau meeting saja bisa mengambil waktu berjam-jam sehingga pekerjaan inti malah nggak kelar2.  Hanya saja karena kemarin sempat lowong karena nggak punya bos, akhirnya ada yang 'mbisiki' pak Chairman supaya aku dimasukin dalam daftar panitia.  Mau tidak mau aku "ho'o" karena nggak ada alasan lain lagi untuk menolak.

Dari meeting pertama dan seterusnya sebenarnya aku sudah males.  Masalahnya terlalu banyak ide2 "dramatis" yang kalau ditelisik lebih jauh lagi ujung2nya hanya untuk memuaskan idealisme beberapa gelintir manusia saja.  Banyak maunya.  Mau inilah mau itulah, harus inilah harus itulah, nggak boleh inilah itulah, dll....dll.....!  Pak Chairman  nggak mau acaranya terkesan kampungan seperti acara panggung tujuh belasan (katanya!).  Pokoknya semua mesti eksklusif.  Biar nggak malu-maluin.

Gladi kotor, gladi bersih, kulewatkan dengan setengah hati.  Gladi kotor jatuhnya tanggal merah, alamat harus ninggalin anak2 seharian penuh.  Gladi bersih juga mesti pulang malem karena menyesuaikan dengan jadwal pengantaran panitia ke masing2 tujuan.  Sementara otakku lebih terfokus kepada anak sulungku yang lagi ujian semester (biasanya aku  mendampingi dia belajar pada saat2 seperti ini).  Walhasil mengikuti gladi2an ini malah membuatku sakit kepala.  Apalagi melihat susunan acaranya yang terus terang saja sudah membuatku pengin tidur sebelum dilaksanakan.  Nggak ada yang nyenengin blas (kecuali acara pembacaan Lucky Draw tentunya!).

Sesuai prediksiku semula, acaranya emang membosankan banget.  Garing abis, Rek! Tidak berjalan sesuai dengan skenario.  MC-nya biarpun katanya artis ibu kota tetep nggak bisa menghangatkan suasana.  Band-nya biarpun katanya band undangan khusus dari Bandung, kualitasnya nggak jauh beda dengan band kantor yang sudah lama ada.  Secara keseluruhan acara tidak bisa dibilang menarik.  Tidak seimbang dengan panggung megah yang sudah dikerjakan selama berbulan-bulan oleh panitia.  First Lucky draw berupa mobil juga tidak seimbang karena tidak semua karyawan dapat lucky draw.  Terlalu "njomplang" kata orang Jawa.

Ada beberapa hal yang menurutku bisa jadi dilupakan oleh panitia.  Acara akhir tahun didedikasikan untuk karyawan.  Tapi tidak ada karyawan yang boleh terlibat dalam mengisi acara.  Semua pengisi acara adalah orang luar yang diundang.  Orang luar yang tidak dikenal oleh para karyawan yang notabene adalah pekerja lapangan.  Jadi apakah benar acara ini didedikasikan untuk karyawan?  

Kalau benar acara ini didedikasikan untuk karyawan, sudah pasti karyawan merasa terhibur dan terpuaskan . Jika benar acara ini untuk karyawan, mengapa terlalu banyak aturan yang mesti dipatuhi oleh karyawan?  Bagiku sebagai bagian dari karyawan, acara YEF adalah acara untuk bersenang-senang, bergembira bersama karyawan lainnya.  Panggung megah dan sajian acara hanyalah penunjang belaka.  Yang utama adalah makan enak, tersenyum, tertawa, dan menantikan dapat lucky draw.  Biarpun hanya dapat sendok tapi tetap terasa hepi.  Itu tujuan YEF.  Bersenang-senang setelah satu tahun terperangkap dalam rutinitas kerja.

Jika pada akhirnya karyawan tidak terpuaskan dan banyak yang merasa kecewa, itu karena panitia terlalu egois dan hanya mengharap pujian semata.  Padahal, siapa yang mau memuji?  Paling juga hanya orang2 yang memang hobinya cari muka sama Mr Chairman. Orang2 yang tetep saja merasa PeDe dan tidak mau peduli apakah karyawan hepi atau tidak hepi.

Next year, jika masih ada yang nekad nunjuk aku jadi bagian dari panitia, aku dengan berat hati akan mengatakan :"Maaf, bukannya saya tidak mau, tapi saya tidak mau jadi orang yang hipokrit alias munafik.  Saya hanya ingin jadi karyawan biasa, yang akan datang YEF untuk bersenang-senang.  Bukan untuk cari muka dengan mengingkari suara hati! Maaf"
Label: edit post
0 Responses