Beberapa hari yang lalu ada yang merasa seperti cacing kepanasan di kantor. Beberapa staff senior, semua perempuan, dipanggil dan dikuliahi berkaitan dengan topik di atas. Alasannya ada salah seorang staff yang merasa "GR" dengan tatapan mata staff yang lain, berkaitan dengan gosip terkini yang menyatakan dia mau resign karena "something wrong". Jadi si Bapak mengumpulkan para ibu dan gadis2 lajang untuk mengklarifikasi tentang yang katanya something wrong tadi, menjadi sesuatu yang seharusnya "bukan" something wrong.
Lalu, apa hubungannya Ghibah dengan kaum perempuan?
Dari "klarifikasi" yang singkat, jelas dan padat, bisa ditarik kesimpulan bahwa kaum perempuan "dituding" sebagai biang kerok terjadinya ghibah atau gunjing menggunjing di kantor. Padahal kalau mau fair, yang punya mulut dan telinga sebenarnya bukan hanya perempuan, toh? Harusnya semua staff dikumpulkan dan dibriefing. Bukan hanya para wanitanya. Ini penting karena berkaitan dengan reputasi sebuah organisasi.
Jujur aku tersinggung. Dan aku yakin, beberapa teman yang lain juga tersinggung. Terutama sekali yang tidak tahu menahu duduk persoalan apalagi sampai mempergunjingkannya. Lebih parahnya lagi, yang sebenarnya tidak tahu persoalan jadi tahu gara2 dipanggil untuk ber"sharing" tadi. Sharing yang kalau direkam pun sungguh akan sangat memalukan untuk didengar, karena ceritanya sudah didramatisir sedemikian rupa seolah-olah permasalahannya menjadi begitu rumit dan pelik.
"Orang yang suka berghibah, mendingan dia jadi pelacur saja sekalian, karena ghibah itu hukumnya lebih berat daripada berzinah!"
Meskipun tersinggung, aku pribadi tidak terlalu peduli. Tidak peduli malah ! Mau berghibah kek, mau tidak berghibah kek, tidak ada urusannya denganku. Sama seperti mayoritas yang lain, aku tidak tahu apa2. Lagipula jika dikaitkan dengan topik permasalahan, tidak ada kaitan denganku sama sekali karena aku sudah keluar dari keanggotaan organisasi beberapa bulan sebelumnya. Jadi, it's not my business!
Beberapa orang saling berbisik. Mencoba memperjelas masalah. Ujung2nya malah memperluas wilayah ghibah. Orang yang awalnya tidak tahu jadi pengin tahu. Korek sana. Korek sini. Dan akhirnya malah jadi ghibah beneran. Jadi bergunjing beneran. Bah! Jadi bener nggak sih tindakan si Bapak mengumpulkan kami untuk mengklarifikasi masalah ghibah meng-ghibah tadi?
Dari topik di atas, ada satu pelajaran yang bisa dipetik : Jangan pernah bergunjing tentang sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Kalau pun sudah pasti benar, sampaikanlah dengan baik lewat jalur yang seharusnya. Ini kan menyangkut kredibilitas organisasi. Sudah pasti berkaitan dengan banyak orang. Jadi apa salahnya diperjelas pada jalur yang seharusnya?.
Satu lagi, kalau memang tidak melakukan suatu perbuatan yang merugikan orang lain, mengapa harus GR terhadap tatapan mata banyak orang sih? Tersinggung. Salah tingkah. Nggak enak bodi. Anggap saja orang yang ngeliatin kita itu orang yang memang ngefans sama kita. Titik. PeDe aja lagi. Ngapain harus kebakaran jenggot dan meminta suaka pada yang berwenang?
Kurasa lain kali si Bapak perlu melakukan investigasi terlabih dahulu sebelum ngajak kami, para perempuan, untuk bersharing. Kalau perlu menyewa Hercule Poirot. So everything will be clear. No need to explain! No need to argue!
Bah! Sekali lagi....bah!




aku tambahin lagi ya...
bahhhhhhhhh hehehehe
Yak setuju banget... bah! :D
@Femi : lha sebel banget Fem..kirain briefing kenaikan gaji..hehehe
@Angel : wkwkwk......:)
Setuju Bu. Sememangnya sebelum memanggil tersebut si "Bapak" harus terlebih dahulu memikirkan baik-buruknya apabila hal tersebut disampaikan. Hal ini sangatlah merupakan tindakan yang mengecewakan.
baiklah kita belajar daripadanya.