Maaf,
Kapan terakhir kita berbincang tentang kita? Bukan tentang anak2. Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang teman. Bukan tentang keluarga di kampung halaman. Bukan tentang romansa picisan.
Maaf,
Kapan terakhir kita bisa tertawa lebar? Betul-betul tertawa. Tanpa sekat. Tanpa dibuat-buat. Tanpa topeng. Berdua terbahak dalam ribuan lelucon dan gurauan. Hingga tersengal meredakan gejolak riang yang membuncah.
Maaf,
Kapan terakhir kita saling memuji? Bahu kokohmu tempat aku biasa bersandar. Atau kerling nakal yang selalu kupunya untukmu. Tanpa basa-basi. Tanpa intervensi. Tanpa pikir panjang. Tanpa perlu nalar.
Maaf,
Kapan terakhir kita saling bergandeng tangan? Menyalurkan hasrat. Menyatukan mimpi. Tidak aku di depan. Atau engkau di belakang. Tidak juga sejajar. Ataupun berjarak. Hanya bergandengan tangan. Saling menggenggam dan merasa nyaman.
Maaf jika boleh mengingatkan,
Bisa jadi selama ini, kita memang lupa diri. Sampai2 terlalu banyak lupa. Lupa berbincang. Lupa tertawa. Lupa memuji. Lupa merasa nyaman. Lupa rasanya bahagia.
Jadi, maaf,
masih perlukah kita bermimpi bersama?



