Catatan ini sebenarnya ingin kutulis pada Hari Buruh dua hari yang lalu. Tapi batal karena ada beberapa gangguan internal harus meredakan perang saudara ke sekian di antara ketiga anakku. Biasalah...namanya juga holiday. Suasana rumah jadi super sibuk dan bising nggak ketulungan. Ditunjang dengan cuaca mendung dan gerimis berkepanjangan di luar lengkap sudah tugasku hari itu sebagai seorang satpam galak di rumah.
Berbicara tentang nasib buruh laksana berkaca pada diri sendiri yang sampai detik ini masih juga menggantungkan harapan pada upah atau gaji yang diterima setiap bulan dari perusahaan. Teorinya sih ingin banyak berteriak dan berkoar tentang banyak ketidakadilan yang nampak jelas di depan mata. Tapi fakta tentang banyak orang yang di"black list" dan diacuhkan perusahaan karena terlalu vokal juga bukan masalah yang bisa diabaikan begitu saja. Intinya sebagai orang yang masih menggantungkan asa pada perusahaan banyak orang yang pada akhirnya harus merelakan begitu saja takdir berjalan di depan matanya termasuk diriku.
Masih terbayang dengan jelas dalam ingatan bagaimana di kantorku, kami selalu mendapatkan ancaman terselubung bagi yang berani "mbalelo" dan mempertanyakan kebijakan perusahaan. Dalam setiap briefing yang diadakan untuk karyawan, selain menyinggung masalah kinerja, big boss akan menambahkan petuahnya dengan senjata pamungkas berikut ini : "Kalau merasa tidak cocok di sini ya keluar saja. Di luar toh masih banyak orang yang butuh pekerjaan!"
Selalu kalimat itu yang diulang-ulang dalam setiap briefing. Kalimat yang menurutku sungguh menohok ulu hati karena bagi karyawan yang sudah mentok umur sudah jelas bahwa mencari pekerjaan lain di luar itu bukanlah perkara gampang. Kecuali, tentu saja, jika ada niat berwirausaha secara mandiri dan tidak tergantung pada gaji setiap bulan. Sakit hati banget rasanya jika setiap keluhan terhadap kebijakan perusahaan senantiasa disikapi dengan sinis dan tidak bersahabat seperti itu.
Jangankan protes, komplain, atau bicara terus terang masalah kebijakan. Yang jelas2 diatur dan direstui oleh undang2 pun tidak dihiraukan, misalnya : Serikat Buruh. Teorinya memang perusahaan harus memberi kesempatan kepada karyawan yang ingin bergabung atau aktif dalam serikat buruh. Tapi praktek dan faktanya adalah NOL. Jangan pernah bergabung dengan serikat buruh apapun jika masih ingin bekerja, itu intinya. Sekali ketahuan bergabung, tamatlah riwayatmu untuk memperbaiki taraf hidup dan masa depan.
Pernah suatu hari bossku (Alm.) memanggilku ke dalam ruangan. Setengah berbisik dia bertanya apakah benar aku aktif dalam serikat buruh. Seseorang baru saja memberinya informasi. Aku ternganga. "Tidak, Pak! Saya tidak aktif dalam serikat apapun selama saya bekerja di perusahaan ini. Tapi untuk diketahui, suami saya anggota SPMI aktif!"
Aku keluar dengan bibir merengut. Aya2 wae mah etah Bapak. Jadi apa buktinya bahwa karyawan boleh berserikat dan berkumpul jika faktanya terus dipermasalahkan? Terus dipantau? Terus diintimidasi?
Dua hari yang lalu mataku tak berkedip menonton berita. Tentang demo buruh. Tentang potret buruh yang masih saja buram semuram kisah perjalanan hidup mereka. Tentang bagaimana kenaikan upah minimum tiap tahun yang tidak berarti apa2 karena harga2 berbagai macam kebutuhan akan ikut melonjak tak terkendalikan. Tentang susah payahnya seorang buruh jika suatu saat jatuh sakit dan tidak bisa bekerja. Jadi, di luar semua itu, kepada siapakah sebenarnya para buruh harus mengaduh atas nasib mereka?
"Selamat Hari Buruh!"
Tidak ada lagi yang bisa kusampaikan selain kata2 itu. Kata yang keluar dari lubuk hati terdalam. Ungkapan rasa yang seringkali harus disimpan rapat atas nama loyalitas kepada perusahaan. Jika tidak ada lagi yang bisa memperjuangkan nasib kita, siapa lagi kalau bukan kita sendiri yang harus berjuang? Buruh adalah tolak ukur kemakmuran suatu negara. Jika buruh sejahtera, sudah pasti makmurlah suatu negara. Jika buruh masih juga menderita, sudah pasti harus dipertanyakan tolak ukur keberhasilan negara tersebut. Selagi nasib buruh belum berubah, selagi kemiskinan masih merajalela, tidak salah jika aku tetap memilih untuk GOLPUT. Setia pada panggilan hidup sebagai orang bebas merdeka dan tidak mudah percaya pada janji2 palsu kaum pembohong dan penipu yang mengatasnamakan rakyat.
Sekali lagi, Selamat Hari Buruh! Jangan pernah surut langkah dalam berjuang! Merdeka!
* Minggu, 1 Mei 2011
- Di rumahku yang seperti surga -



